Dalam perjalanan pulang dari Pangandaran ke Bandung tahun 2005 lalu, singgahlah kami di sebuah Obyek Wisata Budaya Karangkamulyan di Kabupaten Ciamis. Konon, situs ini merupakan peninggalan sang legenda Ciung Wanara. Saya kira menarik sekali cerita mengenai legenda Ciung Wanara seperti diceritakan oleh Mba Mira Marsellia di sini dan juga hikmah yang disampaikan oleh Mas Awan Sundiawan di sini sebagai berikut (Hatur nuhun Mba Mira dan Mas Awan untuk sharingnya):

Yang saya ketahui bahwa kata Karangkamulyan berasal dari Karang (batu) dan kamulyaan (kemulyaan) jadi Karangkamulya(a)n berarti Batu yang memiliki kemuliyaan, mengapa demikian? Karena ketika Ciung Wana mengeluh ayamnya kalah dia duduk disebuah batu kemudian ayam itu dimandikan oleh air yang mengalir dari mata air, maka mata air itu disebut “Cai kahuripan” (Air kehidupan). Akhirnya ayam Ciung Wanara jadi segar kembali dan memenangkan pertandingan adu ayam.

Dari cerita di atas dapat kita ambil hikmahnya, bahwa mata air yang segar yang berasal dari tumbuhan akan menyegarkan badan (kehidupan) kita. Nah coba kita renungkan disekeliling kita, apakah mata air itu masih segar? Apakah mata air itu masih bersumber dari pepohonan yang hijau?

Kesan saya, suasana situs ini sangat tenang meskipun berada di pinggir jalan raya. Rindangnya pepohonan di area ini memberikan kesan sangat teduh sekaligus menyegarkan. Sangat cocok untuk refreshing sekalian mengenal situs peninggalan sejarah. Tampak di foto paling bawah adalah tempat sabung ayam Ciung Wanara. Galeri foto-foto yang lain ada di sini.