jump to navigation

Benteng Kalamata Ternate 2 April 2012

Posted by ayowisata in Maluku Utara, Wisata Budaya.
add a comment

(lagi…)

Gereja Katolik Santo Willibrordus Ternate 2 April 2012

Posted by ayowisata in Maluku Utara, Wisata Budaya.
add a comment

Tidak lupa saya mengabadikan bangunan Gereja Katolik Santo Willibrordus yang beralamat di Jalan Salim Fabanyo No.57, Kelurahan Tanah Raja, Kecamatan Ternate Utara, Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara, 97722. Telp: (0291) 21569. (lagi…)

Tour de Garut : Candi Cangkuang & Kampung Pulo 20 Juni 2008

Posted by ayowisata in Jawa Barat, Wisata Budaya.
14 comments

Sabtu Pahing, 9 Februari 2008, hari masih pagi sekali ketika kami berenam (sebut saja engineer Clarisense yaitu Om Eris, Meon, Gayuh, Dedi, Yosi dan saya) berangkat menuju ke beberapa obyek wisata di Kabupaten Garut – Jawa Barat. Karena kami berdomisili di Bandung, pertama-tama kami menuju ke obyek terdekat yaitu Candi Cangkuang di Situ Cangkuang. Perjalanan kami terhitung lancar, hanya sedikit mengalami kemacetan di Pasar Ujung Berung.

Kami membutuhkan waktu 1.5 jam perjalanan santai untuk mencapai Situ Cangkuang. Setelah memarkir tiga sepeda motor di depan pintu utama, kami pun masuk dengan membayar tiket Rp 2000 per orang. Di depan kami terhampar pemandangan Situ Cangkuang, suasana pedesaan yang terasa tenang dan damai. Di seberang sana terletak Candi Cangkuang dan sebuah kampung adat, Kampung Pulo namanya. Tepat di depan kami terdapat belasan perahu dari bambu yang dapat digunakan untuk menyeberang, tarifnya Rp 3000 per orang.

From Tour de Garut

Kami pun bergegas dengan minat kami masing-masing, dengan kamera di tangan kami mengambil gambar yang kami suka termasuk mengambil potret kami sendiri. Berpose di dalam perahu sepertinya cukup menarik, maka beginilah salah satu potret yang diambil menggunakan kamera saya Nikon D70s plus lensa Nikkor 50mm f/1.8 milik Om Meon. Jadi saya minta ijin untuk ditampilnya ya, semoga berkenan.

From Tour de Garut

Setelah puas dengan mainan masing-masing, kami menyewa satu perahu untuk membawa kami menyeberang. Sembari Pak Danang namanya, menjalankan perahu tersebut, kami pun tetap sibuk dengan Nikon, Canon, Olympus, juga Sony Ericsson yang kami pegang masing-masing. Ternyata di telaga yang kedalamannya barangkali hanya sekitar 2 meter ini dimanfaatkan juga oleh nelayan untuk menjala ikan.

From Tour de Garut

Kami pun akhirnya mendarat di seberang. Tepat di depan kami terlihat situs Candi Cangkuang yang dikelilingi oleh taman. Karena mungkin hari masih pagi, kami belum bisa masuk ke dalam kawasan candi Hindu tersebut. Kami berjalan di pinggir taman menuju Kampung Pulo, sebuah kampung adat yang hanya memiliki 7 bangunan tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Kami diberi penjelasan oleh Pak Danang yang merangkap sebagai pemandu wisata. Ini dia suasana kampung adat tersebut yang diambil menggunakan Nikon D50 plus Nikkor 18-55 mm milik Om Meon, sementara foto-foto lain kami ada di sini.

From Tour de Garut

Obyek Wisata Jawa Barat:
[Pantai Barat Pangandaran][Pantai Timur Pangandaran][Cagar Alam Pananjung][Pantai Karang Nini][Kawah Kamojang][Situ Bagendit][Candi Cangkuang & Kampung Pulo]

Situs Karangkamulyan – Legenda Ciung Wanara 20 Juni 2008

Posted by ayowisata in Jawa Barat, Wisata Budaya.
3 comments

Dalam perjalanan pulang dari Pangandaran ke Bandung tahun 2005 lalu, singgahlah kami di sebuah Obyek Wisata Budaya Karangkamulyan di Kabupaten Ciamis. Konon, situs ini merupakan peninggalan sang legenda Ciung Wanara. Saya kira menarik sekali cerita mengenai legenda Ciung Wanara seperti diceritakan oleh Mba Mira Marsellia di sini dan juga hikmah yang disampaikan oleh Mas Awan Sundiawan di sini sebagai berikut (Hatur nuhun Mba Mira dan Mas Awan untuk sharingnya):

Yang saya ketahui bahwa kata Karangkamulyan berasal dari Karang (batu) dan kamulyaan (kemulyaan) jadi Karangkamulya(a)n berarti Batu yang memiliki kemuliyaan, mengapa demikian? Karena ketika Ciung Wana mengeluh ayamnya kalah dia duduk disebuah batu kemudian ayam itu dimandikan oleh air yang mengalir dari mata air, maka mata air itu disebut “Cai kahuripan” (Air kehidupan). Akhirnya ayam Ciung Wanara jadi segar kembali dan memenangkan pertandingan adu ayam.

Dari cerita di atas dapat kita ambil hikmahnya, bahwa mata air yang segar yang berasal dari tumbuhan akan menyegarkan badan (kehidupan) kita. Nah coba kita renungkan disekeliling kita, apakah mata air itu masih segar? Apakah mata air itu masih bersumber dari pepohonan yang hijau?

Kesan saya, suasana situs ini sangat tenang meskipun berada di pinggir jalan raya. Rindangnya pepohonan di area ini memberikan kesan sangat teduh sekaligus menyegarkan. Sangat cocok untuk refreshing sekalian mengenal situs peninggalan sejarah. Tampak di foto paling bawah adalah tempat sabung ayam Ciung Wanara. Galeri foto-foto yang lain ada di sini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.